Rabu, 07 September 2016

PENGALAMAN MEMBANGUN passive INCOME DARI PROPERTI
Oleh: Arip A.R.

Setiap orang sangat mendambakan adanya tambahan penghasilan yang kian waktu jumlahnya bertambah. Meskipun kita tidak lagi bekerja alias pensiun, tapi penghasilan tetap mengalir. Banyak cara dilakukan orang. Dalam hal ini saya ingin berbagi pengalaman mudah-mudahan bermanfaat untuk yang lain. Terutama untuk para bujang yang akan melangsungkan pernikahan.
Di awal kita membangun rumah tangga dengan mempersunting isteri pujaan hati, tentu yang terpikir pertama kali salah satunya bagaimana menyiapkan rumah sendiri sehingga nyaman ditempati oleh keluarga kecil. Tak masalah rumah sederhana. Itu  juga yang saya lakukan pertama kali, rumah yang didapat dari fasilitas KPR tipe RSSS (rumah sangat sederhana sekali),  satu kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 kamar mandi belum ada dapur. Namun demikian betapa bahagianya ketika memperoleh properti pertama tersebut. Masalah berikutnya bagaimana menyiapkan dapur memagar rumah sementara modal terbatas kalau tidak mau dibilang tidak ada modal sama sekali. Saya teringat sebagai CPNS dengan gaji 80% waktu itu, saya memperoleh tambahan  rejeki  berupa bapetarum/bantuan uang muka rumah sekitar Rp 800 ribu. Saya berpikir,  jumlah ini cukup untuk apa? Dibelikan bahan material rasanya kurang apalagi harus dengan tukang. Tapi dengan kenyataan tersebut saya berupaya berpikir keras. Dengan jumlah  uang segitu, saya bertekad untuk bisa membangun sisa tanah di belakang rumah. Saya pikir - kenapa tidak -  saya bisa belajar menjadi tukang amatiran, gali pondasi sendiri, pasang batu sendiri,  dst. Jadilah saya merealisasikan ide tersebut. Terasa semangat untuk melakukannya wong ini tempat tinggal saya sendiri.
Batu pondasi saya ambil sendiri dari kali yang jaraknya relatif dekat dengan komplekku, jadi tidak perlu beli. Besi untuk slup saya beli dari tukang rongsokan sehingga harganya murah. Jika dipikir sekarang rasanya geli, ada beberapa tukang yang menawarkan untuk membantu pekerjaan. Namun  apa daya upahnya tidak ada. Jadi ceritanya jalan sendiri, sebelum  berangkat ke kantor atau pulang kantor atau pada hari Sabtu dan Minggu, saya secara bertahap (istilah basa sunda  ngarinyuh. membangun rumah seperti binatang rayap) benar-benar saya jalankan. Meskipun pekerjaan amatir hasilnya tidak serapi buatan tukang -  saya dapat menyelesaikan secara bertahap. Dan akhirnya memang selesai meski memerlukan waktu berbulan-bulan. Sebagai catatan saat ini rumah tersebut sudah saya kontrakan  kepada yang membutuhkan, tidak terasa saya sudah mengontrakan rumah tersebut  selama 5 tahun lebih.
Dari pengalaman tersebut, Alhamdulillah  ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh:
1.    Untuk mewujudkan keinginan maka jangan sungkan untuk menikmati prosesnya. Nikmati menggali pondasi, nikmati mengangkut batu, dsb.
2.    Dengan terjun langsung, maka kita memperoleh keterampilan secara otodidak
3.    Ide berikutnya, saya tak akan memugar apa yang telah saya bangun. Tapi jikapun ada rezeki, maka saya akan membangun yang baru di tempat lain. Yang sudah ada sebaiknya di kontrakan/disewakan saja.
4.    Kita mungkin berpikir, bagaimana cara secepatnya melunasi KPR, itu juga yang saya pikirkan di awal. Tapi dengan pengalaman dan perjalanan jadi sebaliknya, apabila ada kesempatan untuk men top up (menaikan plapon) KPR - saya ambil kesempatan itu. Kelebihannya saya belikan lahan yang lain, jika mungkin bisa dibangun secepatnya. Bangunlah dan sewakan. Jika tidak, tunggu sampai bisa top up KPR di  tahun berikutnya, sambil kembali keproses yang tadi saya utarakan, secara bertahap, setiap hari sabtu dan minggu, saya bermain golf tradisional alias nyangkul untuk pondasi bangunan,  yang ada dibenak saya, nanti lahan ini akan menjadi rumah yang bisa menghasilkan sewa rumah. Hasilnya? Kita bisa mengisi waktu dengan hal yang produktif. Harapannya tambah tahun - rasio kewajiban berupa cicilan ke Bank akan semakin kecil dibandingkan dengan hasil sewa dari properti. Istilah saya bayar KPR adalah menabung paksa, yang cicilannya sebagian dibayar oleh penyewa properti.
5.    Cobalah menabung, berapapun besarnya tak masalah mau seratus, dua ratus ribu per bulan tak masalah. Suatu saat akan merasakan manfaatnya. Uang yang terkumpul tersebut akan menjadi triger atau sebagai penunjang bagi kegiatan usaha berikutnya. Contoh ketika kita punya kesempatan untuk bisa membeli lahan  namun kurang untuk menyelesaikan surat-surat seperti akta jual beli, maka akan terasa sangat menolong apabila ada tabungan tersebut. Tentu banyak contoh lainnya.
6.    Berinvestasilah meskipun nilainya tak seberapa. Contoh  ketika kita baru mampu membeli satu kol pasir, satu sak semen, belilah. Belajarlah nembok sendiri. Bisa jadi tak serapi buatan tukang. Namun percayalah hal kecil inilah yang akan mengawali perubahan nasib. 
7.    Bagi yang baru membangun rumah, mungkin berpikir, saya harus menyiapkan material baru, seperti batu bata, genting dsb. untuk menyelesaikan bangunan. Ketahuilah banyak bahan yang kita bisa gunakan bahkan bisa diperolah secara gratis. Pengalaman saya yang terakhir/saat ini. Saya memanfaatkan bata bongkaran, material brangkal untuk bahan dinding rumah pengganti batu bata (cara pemasangan lihat di google) jadi biaya untuk batu bata gratis, cuma memerlukan biaya untuk ongkos angkut. Untuk bangunan rumah satu tingkat, anda bisa menggunakan bambu sebagai salah satu material pengganti besi sloop. Jadi pembangunan rumah bisa memangkas anggaran 40 sampai 50%. Wow luarr biasa.

8.    Hasil yang kita peroleh, jangan  lupa niatkan sebagian untuk beribadah, a.l shadaqoh untuk  keperluan anak dan  isteri, zakat/infak, laksanakan ibadah qurban/haji/umroh. Insyaallah  barakah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar