PENGALAMAN
MEMBANGUN passive
INCOME DARI PROPERTI
Oleh: Arip A.R.
Setiap orang sangat mendambakan adanya tambahan penghasilan
yang kian waktu jumlahnya bertambah. Meskipun kita tidak lagi bekerja alias
pensiun, tapi penghasilan tetap mengalir. Banyak cara dilakukan orang. Dalam
hal ini saya ingin berbagi pengalaman mudah-mudahan bermanfaat untuk yang lain.
Terutama untuk para bujang yang akan melangsungkan pernikahan.
Di awal kita membangun rumah tangga dengan mempersunting
isteri pujaan hati, tentu yang terpikir pertama kali salah satunya bagaimana
menyiapkan rumah sendiri sehingga nyaman ditempati oleh keluarga kecil. Tak
masalah rumah sederhana. Itu juga yang
saya lakukan pertama kali, rumah yang didapat dari fasilitas KPR tipe RSSS
(rumah sangat sederhana sekali), satu
kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 kamar mandi belum ada dapur. Namun demikian betapa
bahagianya ketika memperoleh properti pertama tersebut. Masalah berikutnya
bagaimana menyiapkan dapur memagar rumah sementara modal terbatas kalau tidak
mau dibilang tidak ada modal sama sekali. Saya teringat sebagai CPNS dengan
gaji 80% waktu itu, saya memperoleh tambahan rejeki berupa bapetarum/bantuan uang muka rumah sekitar
Rp 800 ribu. Saya berpikir, jumlah ini
cukup untuk apa? Dibelikan bahan material rasanya kurang apalagi harus dengan
tukang. Tapi dengan kenyataan tersebut saya berupaya berpikir keras. Dengan
jumlah uang segitu, saya bertekad untuk
bisa membangun sisa tanah di belakang rumah. Saya pikir - kenapa tidak - saya bisa belajar menjadi tukang amatiran,
gali pondasi sendiri, pasang batu sendiri,
dst. Jadilah saya merealisasikan ide tersebut. Terasa semangat untuk
melakukannya wong ini tempat tinggal saya sendiri.
Batu pondasi saya ambil sendiri dari kali yang jaraknya
relatif dekat dengan komplekku, jadi tidak perlu beli. Besi untuk slup saya beli
dari tukang rongsokan sehingga harganya murah. Jika dipikir sekarang rasanya
geli, ada beberapa tukang yang menawarkan untuk membantu pekerjaan. Namun apa daya upahnya tidak ada. Jadi ceritanya
jalan sendiri, sebelum berangkat ke
kantor atau pulang kantor atau pada hari Sabtu dan Minggu, saya secara bertahap
(istilah basa sunda ngarinyuh. membangun rumah seperti binatang rayap) benar-benar saya
jalankan. Meskipun pekerjaan amatir hasilnya tidak serapi buatan tukang - saya dapat menyelesaikan secara bertahap. Dan
akhirnya memang selesai meski memerlukan waktu berbulan-bulan. Sebagai catatan
saat ini rumah tersebut sudah saya kontrakan
kepada yang membutuhkan, tidak terasa saya sudah mengontrakan rumah
tersebut selama 5 tahun lebih.
Dari
pengalaman tersebut, Alhamdulillah ada
banyak pelajaran yang bisa diperoleh:
1. Untuk mewujudkan keinginan maka
jangan sungkan untuk menikmati prosesnya. Nikmati menggali pondasi, nikmati
mengangkut batu, dsb.
2. Dengan terjun langsung, maka kita
memperoleh keterampilan secara otodidak
3.
Ide
berikutnya, saya tak akan memugar apa yang telah saya bangun. Tapi jikapun ada
rezeki, maka saya akan membangun yang baru di tempat lain. Yang sudah ada
sebaiknya di kontrakan/disewakan saja.
4.
Kita
mungkin berpikir, bagaimana cara secepatnya melunasi KPR, itu juga yang saya
pikirkan di awal. Tapi dengan pengalaman dan perjalanan jadi sebaliknya,
apabila ada kesempatan untuk men top up (menaikan plapon) KPR - saya ambil
kesempatan itu. Kelebihannya saya belikan lahan yang lain, jika mungkin bisa
dibangun secepatnya. Bangunlah dan sewakan. Jika tidak, tunggu sampai bisa top
up KPR di tahun berikutnya, sambil
kembali keproses yang tadi saya utarakan, secara bertahap, setiap hari sabtu
dan minggu, saya bermain golf tradisional alias nyangkul untuk pondasi
bangunan, yang ada dibenak saya, nanti lahan
ini akan menjadi rumah yang bisa menghasilkan sewa rumah. Hasilnya? Kita bisa
mengisi waktu dengan hal yang produktif. Harapannya tambah tahun - rasio
kewajiban berupa cicilan ke Bank akan semakin kecil dibandingkan dengan hasil
sewa dari properti. Istilah saya bayar KPR adalah menabung paksa, yang
cicilannya sebagian dibayar oleh penyewa properti.
5.
Cobalah
menabung, berapapun besarnya tak masalah mau seratus, dua ratus ribu per bulan
tak masalah. Suatu saat akan merasakan manfaatnya. Uang yang terkumpul tersebut
akan menjadi triger atau sebagai penunjang bagi kegiatan usaha berikutnya.
Contoh ketika kita punya kesempatan untuk bisa membeli lahan namun kurang untuk menyelesaikan surat-surat
seperti akta jual beli, maka akan terasa sangat menolong apabila ada tabungan
tersebut. Tentu banyak contoh lainnya.
6.
Berinvestasilah
meskipun nilainya tak seberapa. Contoh
ketika kita baru mampu membeli satu kol pasir, satu sak semen, belilah.
Belajarlah nembok sendiri. Bisa jadi tak serapi buatan tukang. Namun percayalah
hal kecil inilah yang akan mengawali perubahan nasib.
7.
Bagi
yang baru membangun rumah, mungkin berpikir, saya harus menyiapkan material
baru, seperti batu bata, genting dsb. untuk menyelesaikan bangunan. Ketahuilah
banyak bahan yang kita bisa gunakan bahkan bisa diperolah secara gratis.
Pengalaman saya yang terakhir/saat ini. Saya memanfaatkan bata bongkaran, material
brangkal untuk bahan dinding rumah pengganti batu bata (cara pemasangan lihat
di google) jadi biaya untuk batu bata gratis, cuma memerlukan biaya untuk
ongkos angkut. Untuk bangunan rumah satu tingkat, anda bisa menggunakan bambu
sebagai salah satu material pengganti besi sloop. Jadi pembangunan rumah bisa
memangkas anggaran 40 sampai 50%. Wow luarr biasa.
8. Hasil yang kita peroleh, jangan lupa niatkan sebagian untuk beribadah, a.l
shadaqoh untuk keperluan anak dan isteri, zakat/infak, laksanakan ibadah
qurban/haji/umroh. Insyaallah barakah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar