PENGALAMAN MEMBANGUN
RUMAH FASSIVE INCOME PERTAMA
Oleh: Arip A.R.
Yakini, bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT dzat
pemelihara dan pengatur hidup, semua kita diberi potensi yang sama yaitu satu
hari 24 jam, satu bulan 30 atau 31 hari, satu tahun 365 hari, tinggal bagaimana
memanfaatkan potensi tersebut. Masalahnya kita tidak tahu seberapa jatah rezeki
yang diberikan Allah, Seberapa jumlah ayat al-Quran yang diberikan Allah untuk
bisa dihapal dan diamalkan, apakah kita akan mendapat warisan surga atau malah
sebaliknya berupa warisan neraka?. Ini
tantangan bagi kita, karena jatah dirahasiakan Allah maka perlu upaya yang
optimal, hikmahnya tentu kita bisa melihat, ada yang dengan mudah memperoleh
titipan rezeki ada yang memang tertatih-tatih untuk memperolehnya, namun
demikian tetap saja kita perlu mengupayakannya, bisa jadi kita akan diberikan
kemudahan setelah kesulitan.
Upaya yang bisa kita lakuan antara lain memohon kepada Allah, lakukan
action untuk menggapai tujuan tersebut.
Alhamdulillah saya punya sedikit pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat.
Sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu, saya sangat ingin memiliki penghasilan tambahan dalam
rangka memperolah biaya untuk menyekolahkan anak di sekolah dengan kurikulum
yang lebih baik. Rasanya jalan itu benar-benar pertolongan Allah SWT.
Suatu pagi kawan saya memohon bantuan untuk menyelesaikan proposal
pembangunan mesjid yang akan dibangun di lingkungan tempat tinggalnya. Sambil
menyelesaikan proposal tersebut, kawan yang
satu ini berujar kepada saya, ini “mah” pekerjaan dari Allah maka Allah yang akan
meberi upahnya. Dia cerita bagaimana
upah bagi orang yang memfasilitasi
pembangunan mesjid, pengalaman dia Allah tak segan-segan tokcer membalasnya.
Mau percaya atau tidak? Saya mah percaya itu. Kawan saya semangat
menyampaikannya.
Dengan izin Allah setelah ucapan itu keluar dari mulut kawan saya,
telepon berdering, dan menanyakan nama saya. Eh yang nelpon bibi saya – apa
coba tebak yang diberitakan bibi saya.
Langsung saja ... bibi saya diseberang
sana menyampaikan: “Ang, bibi baru saja
ditawari tanah. Bibi tidak punya uang. Sayang ang tempatnya meskipun di gang tapi itu dilingkungan kampus”.
Jawab saya, ah dari mana saya punya uang. Tapi nanti saya
diskusikan dulu dengan isteri.
Singkat cerita saya diskusi dengan isteri. Ia memaklumi dan memahami apa
yang saya maksudkan. Jadilah action yang
isteri saya lakukan adalah perhiasan
yang dia miliki ia jual. Terkumpulah sejumlah uang dengan tambahan sana
sini, akhirnya jadilah saya memiliki lahan seluas kl 75 m2. Setelah lahan
terbeli saya bingung bagaimana
membangunnnya. Bibi memberi
masukan agar di pondasi dulu saja. Cari modal sini dan sana, akhirnya bisa juga
dipondasi. Eh dengan ijin Allah kok ada saja jalan untuk mendapat modal. Lantas
setelah selesai dipondasi, saya serahkan untuk gambar serta bangunan untuk
diurus bibiku yang baik hati. Jadilah gambar yang optimal untuk satu lantai
bagunan terdiri dari 5 kamar kos, 1 tempat/ruangan penyimpanan motor, satu kamar mandi dan satu ruangan untuk masak,
kebayang bagaimana bibi saya sangat
mahir merencanakan ruangan sehingga penggunaan lahan secara optimal. Dalam jangka
waktu dua bulan lebih bangunan satu lantai selesai plus dengan dak untuk rencana lantai 2. Ah
senengnya, dan saya merasakan kok tidak cape membangun rumah “teh”, wong yang
ngurusnya bibi, dari pembelian bahan sampai tukang, menyiapkan konsumsi dsb.
Inilah karunia Allah sebagaimana ungkapan kawan saya di atas, betapa bagi Allah
hal ini sangat mudah. Tahu-tahu kamar langsung terisi penuh, dan jadilah pasive
income pertamaku diterima, jadilah uang tersebut sebagai uang iuran sekolah
putriku untuk satu tahun. Tak terasa anak pertamaku saat ini sudah mulai masuk kuliah, anak kedua kelas 9
dan ketiga kelas 7 disebuah lembaga pendidikan
pesantren. Satu lagi Allah memberi karunia berupa kelahiran putri
keempat. Aku sangat bersyukur atas kehadirannya. Allah maha besar, Allah maha pemelihara.
Pelajaran/hikmah yang bisa diambil dari perjalanan hidup tersebut,
1. Janganlah berkecil hati dengan
keadaan sekarang sesulit apapun hidup tentu ada jalan keluarnya
2. Sering kita katakan ketika akan
berusaha, ah aku kan tidak ada modal, mana bisa aku bisa membangun usaha.
Ketahuilah, kita hanya diminta untuk melakukan proses hidup Allah yang
menentukan. Bingung cari kesibukan/kerja? Ada
puluhan masjid di lingkungan kita, ada ratusan meter jalan lingkungan di sekitar kita. Gunakan
energi yang ada pada kita untuk bisa bermanfaat, jadilah pembantu Allah dengan
membersihkan masjid secara rutin di tempat tinggalmu, jadilah orang yang senang
memfasilitasi keberadaan masjid, jadilah bagian dari jamaah mesjid, jadilah
pembersih jalan lingkungan, dan banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan.
Ketahuilah Sang pemilik Rezeki tidaklah buta, dia yang akan menuntun kita
kepada akses modal, dia yang akan menuntuk kita pada kegiatan yang produktif.
3. Kita sering berpikir, untuk menggapai
goal tertentu, kita terlalu fokus pada substansi materi yang kita inginkan sehingga kita lupa pada sang
pemilik fasilitas. Padahal ada strategi lain yang kasat mata atau
sepertinya diluar nalar kita yang bisa kita lakukan. Ingin rumah? Maka jalankan
strategi dengan ikut membangun rumah Allah, memelihara rumah Allah. InsyaAllah
Allah mudahkan kita untuk memiliki rumah,
ingin beribadah haji? Pelajari ilmunya, doakan orang yang berangkat juga
mohon doa ybs. Agar kita bisa menyusul di tahun depan, insyaallah Allah akan memberi
kemudahan. Sambil tentu berupaya
menabung sedikit demi sedikit. Dan tentu kita bisa memberikan contoh lebih
banyak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar