Rabu, 07 September 2016

PENGALAMAN  MEMBANGUN  RUMAH FASSIVE INCOME PERTAMA
Oleh: Arip A.R.

Yakini, bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT dzat pemelihara dan pengatur hidup, semua kita diberi potensi yang sama yaitu satu hari 24 jam, satu bulan 30 atau 31 hari, satu tahun 365 hari, tinggal bagaimana memanfaatkan potensi tersebut. Masalahnya kita tidak tahu seberapa jatah rezeki yang diberikan Allah, Seberapa jumlah ayat al-Quran yang diberikan Allah untuk bisa dihapal dan diamalkan, apakah kita akan mendapat warisan surga atau malah sebaliknya berupa warisan  neraka?. Ini tantangan bagi kita, karena jatah dirahasiakan Allah maka perlu upaya yang optimal, hikmahnya tentu kita bisa melihat, ada yang dengan mudah memperoleh titipan rezeki ada yang memang tertatih-tatih untuk memperolehnya, namun demikian tetap saja kita perlu mengupayakannya, bisa jadi kita akan diberikan kemudahan setelah kesulitan.
Upaya yang bisa kita lakuan antara lain memohon kepada Allah, lakukan action untuk menggapai  tujuan tersebut. Alhamdulillah saya punya sedikit pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat.
Sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu, saya sangat  ingin memiliki penghasilan tambahan dalam rangka memperolah biaya untuk menyekolahkan anak di sekolah dengan kurikulum yang lebih baik. Rasanya jalan itu benar-benar pertolongan Allah SWT.
Suatu pagi kawan saya memohon bantuan untuk menyelesaikan proposal pembangunan mesjid yang akan dibangun di lingkungan tempat tinggalnya. Sambil menyelesaikan  proposal tersebut, kawan yang satu ini berujar kepada saya, ini “mah” pekerjaan dari Allah maka Allah yang akan meberi upahnya. Dia cerita bagaimana  upah bagi orang  yang memfasilitasi pembangunan mesjid, pengalaman dia Allah tak segan-segan tokcer membalasnya. Mau percaya atau tidak? Saya mah percaya itu. Kawan saya semangat menyampaikannya.
Dengan izin Allah setelah ucapan itu keluar dari mulut kawan saya, telepon berdering, dan menanyakan nama saya. Eh yang nelpon bibi saya – apa coba tebak  yang diberitakan bibi saya. Langsung saja ... bibi saya  diseberang sana menyampaikan: “Ang, bibi  baru saja ditawari tanah. Bibi tidak punya uang. Sayang ang tempatnya  meskipun di gang tapi itu dilingkungan kampus”. Jawab saya,  ah  dari mana saya punya uang. Tapi nanti saya diskusikan dulu dengan isteri.
Singkat cerita saya diskusi dengan isteri. Ia memaklumi dan memahami apa yang saya maksudkan. Jadilah  action yang isteri saya lakukan adalah perhiasan  yang dia miliki ia jual. Terkumpulah sejumlah uang dengan tambahan sana sini, akhirnya jadilah saya memiliki lahan seluas kl 75 m2. Setelah lahan terbeli saya bingung bagaimana  membangunnnya.  Bibi memberi masukan agar di pondasi dulu saja. Cari modal sini dan sana, akhirnya bisa juga dipondasi. Eh dengan ijin Allah kok ada saja jalan untuk mendapat modal. Lantas setelah selesai dipondasi, saya serahkan untuk gambar serta bangunan untuk diurus bibiku yang baik hati. Jadilah gambar yang optimal untuk satu lantai bagunan terdiri dari 5 kamar kos, 1 tempat/ruangan  penyimpanan motor,  satu kamar mandi dan satu ruangan untuk masak, kebayang bagaimana  bibi saya sangat mahir merencanakan ruangan sehingga penggunaan lahan secara optimal. Dalam jangka waktu dua bulan lebih bangunan satu lantai selesai  plus dengan dak untuk rencana lantai 2. Ah senengnya, dan saya merasakan kok tidak cape membangun rumah “teh”, wong yang ngurusnya bibi, dari pembelian bahan sampai tukang, menyiapkan konsumsi dsb. Inilah karunia Allah sebagaimana ungkapan kawan saya di atas, betapa bagi Allah hal ini sangat mudah. Tahu-tahu kamar langsung terisi penuh, dan jadilah pasive income pertamaku diterima, jadilah uang tersebut sebagai uang iuran sekolah putriku untuk satu tahun. Tak terasa anak pertamaku saat ini  sudah mulai masuk kuliah, anak kedua kelas 9 dan ketiga kelas 7 disebuah lembaga pendidikan  pesantren. Satu lagi Allah memberi karunia berupa kelahiran putri keempat. Aku sangat bersyukur atas kehadirannya. Allah maha besar, Allah maha pemelihara.
Pelajaran/hikmah  yang  bisa diambil dari perjalanan hidup tersebut,
1.    Janganlah berkecil hati dengan keadaan sekarang sesulit apapun hidup tentu ada jalan keluarnya
2.    Sering kita katakan ketika akan berusaha, ah aku kan tidak ada modal, mana bisa aku bisa membangun usaha. Ketahuilah, kita hanya diminta untuk melakukan proses hidup Allah yang menentukan. Bingung cari kesibukan/kerja? Ada  puluhan masjid di lingkungan kita, ada ratusan meter  jalan lingkungan di sekitar kita. Gunakan energi yang ada pada kita untuk bisa bermanfaat, jadilah pembantu Allah dengan membersihkan masjid secara rutin di tempat tinggalmu, jadilah orang yang senang memfasilitasi keberadaan masjid, jadilah bagian dari jamaah mesjid, jadilah pembersih jalan lingkungan, dan banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan. Ketahuilah Sang pemilik Rezeki tidaklah buta, dia yang akan menuntun kita kepada akses modal, dia yang akan menuntuk kita pada kegiatan yang produktif.

3.    Kita sering berpikir, untuk menggapai goal tertentu, kita terlalu fokus pada substansi  materi yang  kita inginkan sehingga kita lupa pada sang pemilik fasilitas.  Padahal  ada strategi lain yang kasat mata atau sepertinya diluar nalar kita yang bisa kita lakukan. Ingin rumah? Maka jalankan strategi dengan ikut membangun rumah Allah, memelihara rumah Allah. InsyaAllah Allah mudahkan kita untuk memiliki rumah,  ingin beribadah haji? Pelajari ilmunya, doakan orang yang berangkat juga mohon doa ybs. Agar kita bisa menyusul di tahun depan, insyaallah Allah akan memberi kemudahan.  Sambil tentu berupaya menabung sedikit demi sedikit. Dan tentu kita bisa memberikan contoh lebih banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar